Rabu, 21 Juli 2010

KERIS DAPUR UMYANG

Beberapa Literatur mengatakan bahwa Umyang adalah nama seorang Empu yang hidup di jaman Pajang. Dan karena itu, sebenarnya nama Umyang bukanlah nama dapur keris. Namun meski demikian, masyarakat per-keris-an di Jawa Tengah dan Jawa Timur kerap kali atau bisa dibilang familiar dengan yang disebut sebagai keris dapur umyang. Cirinya adalah terdapat ukiran atau relief sepasang manusia (kadang disebut puthut atau badjang) di sebelah kanan dan kiri dapurnya (gandhik atau kadang di bagian wadidang). Sepasang manusia tersebut saling membelakangi – dengan posisi tangan menyembah atau menengadah. Ciri tambahan lain (tidak selalu ada) adalah terdapat tulisan huruf jawa, relief beringin, payung, dan padi kapas di bilahnya. Istilah yang baku untuk keris umyang ini sebenarnya adalah Keris Dapur Puthut (kembar). Jadi bisa dibilang bahwa keris umyang adalah istilah pasar bagi keris dapur Puthut (Kembar).

Apakah Empu Ompyang selalu (atau yang) membuat keris dapur Puthut Kembar ? Tidak bisa dipastikan demikian. Hanya saja dalam literatur-literatur disebutkan bahwa Empu Ompyang adalah seorang seorang empu yang senior, sangat mumpuni dan master piece dalam membabar pusaka. Sangat diragukan jika Beliau membuat keris pasaran sebagaimana Keris Dapur Umpyang yang beredar di masyarakat.

Tulisan Huruf Jawa di tengah bilah keris ini terbaca Umyang Jimbe, inilah yang kemudian menjadikan masyarakat awam menganggap keris dapur Puthut Kembar ini bernama buatan Empu Umyang. Padahal bisa diragukan jika Empu Umyang sendiri dengan jelas membubuhkan “tanda tangan” pada karyanya tersebut. Hal yang agaknya tabu dilakukan untuk orang sekelas Beliau. Terlalu kasar dan mencolok. Katakanlah seorang perlu menandai karyanya (ciri garap), biasanya dengan bahasa sandi atau simbol ataupun sengkala di bagian pesi yang tersembunyi dalam deder atau pun landeyan.

Lebih lanjut alasan yang memberatkan adalah ketidak sesuaian ricikan keris umyang dengan ciri khas (pakem) keris buatan Empu Umpyang. Jika kita membaca literature “Panangguhing Dhuwung, karya Mas Ngabehi WIRASOEKADGA, Abdi Dalem mantra pande Kadipaten Anom ing Surakarta – Adiningrat, hal 25” – disebutkan secara detail bahwa ciri ricikan keris tangguh Pajang karya Empu Ki Umyang terdiri atas :
“Dhuwung ganja waridin, gulu meled menggik landhung sirah cecak dempok lancip, bangkekan sedhengan, buntut urang mekrok buweng, seblakipun sereng kacel, wasuhanipun pamor mengkoreg kira lulut, tosanipun keset sekar kacang kados gelunging wayang, jalen otot lantas lambe gajah landhung godhagan longgar mojok gandhik cekapan mayat, blumbangan lebet, sogokan landhung janur lancip, menawi luk - lukipun rengkol, menawi leres lenggahipun keder, awak-awakan pejetan, bilih ngangge ri pandan - dha (jawi) nipun cetha, bilih gandhikan – gandhikipun keder celak, tikel alis jugag ceklek”.
Lihat, tidak ada sangkut pautnya dengan ciri khas keris dapur umyang yang selama ini beredar. Bahkan jika dibandingkan dengan keterangan buku
Ensiklopedi Keris karangan Bambang Harsrinuksmo tentang keris dapur putut, rupanya banyak beredar dapur putut yang telah keluar dari pakem. Menurut Bambang Harsrinuksmo keris dapur ini adalah keris bilah lurus – sedangkan yang beredar bukan hanya bilah lurus melainkan bilah luk yang sangat beragam jumlahnya.

Masih dalam kaitannya dengan Empu Omyang, dahulu sampai pertengahan abad ke-20, banyak pemilik keris umyang yang mengasapinya dengan asap kemenyan setiap malam Rabu Pon, yang dianggap sebagai hari wafatnya Empu Umyang. Pengasapan kemenyan itu dimaksudkan agar tuah keris itu terpelihara. Namun sedikit demi sedikit kebiasaan itu mulai ditinggalkan orang, hingga abad ke-21 amat jarang orang melakukan ritual semacam itu.

Ada pula yang mengatakan bahwa nama sebutan Umyang adalah
sebutan bagi sepasang puthut/badjang dan “kegunaan” keris tersebut. Jenis keris umyang ada beragam. Ada Umyang Jimbe, Umyang Tagih, Umyang Beras, Umyang Panimbal, Umyang Tombak dan lain sebagainya. Melihat penamaan keris ini, bisa langsung ditebak bahwa tujuan utama sang pembuat dan pemilik keris ini berintensi mendapatkan bantuan atau pertolongan dari piandel tersebut. Umyang Jimbe dipercaya bisa membantu melancarkan usaha dan menghalau rintangan, Umyang Panimbal dipercaya bisa mendatangkan / memanggil rejeki, Umyang Tagih membantu pemiliknya menagihkan utang-utang orang lain kepadanya, bahkan Umyang Beras diyakini bisa membuat beras yang ada di tempat beras tidak akan habis. Wallahualam.

Kembali ke masalah nama – dinamakan umyang karena kedua puthut ini yang “ngumyang” (umek, sibuk, berusaha keras sambil ngomel dan berceloteh). Kata Umyang sendiri, menurut arti lain bahasa jawa adalah seseorang yang "ngumyang" atau menggigau..tidak sadar. Jadi sepasang manusia pada dapur umyang tersebut dianggap sebagai “prewangan” yang membantu pemilik pusaka tersebut melancarkan maksud-tujuannya. Rasanya logika penamaan ini cukup masuk akal.

Karena sifat dapur keris Puthut Kembar sebagaimana terurai di atas, maka sangat kuat bahwa dikalangan pecinta keris, dapur umyang lebih dimaknai sebagai benda isoteris klenik yang kental dengan dunia perdukunan. Penggemarnya pun juga kebanyakan dari kalangan pengusaha atau pedagang. Padahal bila dicermati lebih dalam, kita bisa menggali banyak nilai filosofis keris dapur puthut kembar ini – dibandingkan sekedar berharap rejeki dari benda mati.

Mari kita coba melihat nilai-nilai tersebut karena keris sebagai hasil karya seni juga merupakan sebentuk bahasa – alat komunikasi. Bahasa adalah sarana yang membawa banyak muatan, baik muatan komunikasi, karakteristik penutur/pembuat, sampai relasi nilai yang paling substansial. Bahasa adalah sebuah simbol. Sebagai sebuah bahasa, bentuk dan gambar berbicara menunjuk tentang lambang/simbolisasi sesuatu yang mempunyai kandungan makna melampaui dirinya sendiri.
Dalam kaitannya dengan dunia pe-keris-an juga sama halnya. Keris kerap dikatakan juga sebagai alat penanda jaman / sengkalan suatu masa atau kejadian tertentu. Misal, Keris dengan kinatah Gajah Singo pada gonjo yang melambangkan sengkalan tahun 1558, pertanda berhasilnya pasukan Sultan Agung menumpas pemberontakan pragola di Pati, dan beberapa contoh keris lainnya. Dan sesungguhnya lebih dari itu, keris juga bisa mempunyai maksud pralambang atau simbolisasi. Dan ini bisa sangat jamak kita temui dalam hampir pada semua keris, termasuk pada keris dapur Puthut Kembar ini.
Puthut, dalam istilah Jawa bermakna Murid atau Santri atau Cantrik, seseorang yang berguru atau belajar ilmu (apa saja) pada seorang guru/resi/pandita dsb. Putut adalah seorang pendeta atau petapa muda (Frater?). Bentuk puthut ini konon berasal dari legenda tentang cantrik yang diminta menjaga sebuah pusaka oleh sang guru. Ia diminta untuk menjaga (berjaga), sambil terus berdoa dan memohon pertolongan serta kekuatan dari Yang Maha Kuasa.
Ada murid laki-laki ada perempuan, keduanya juga melambangkan keseimbangan dan juga perpaduan, bahwa apa yang ada di bumi ini selalu berpasang-pasangan. Ada laki-laki dan perempuan, ada siang dan malam, ada gelap dan terang, ada hitam dan putih, ada sedih dan gembira, ada yin dan yang. Pada keris dapur puthut, ini bisa kita amati bahwa bentuk wajah Puthut seolah-olah berupa orang laki-laki di bagian depan (gandik) dan perempuan di bagian belakang (wadidang). Dan keduanya tampak menggenakan gelungan ikat kepala.Posisi duduk bersimpuh (bertapa) : menengadahkan tangan seperti posisi berdoa. Sebagai murid, untuk mencapai suatu ilmu, harus menjalaninya dengan proses tirakat, semedi untuk mencapai keheningan, kebersihan batin, tawakal dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa . Jika jiwa kita bersih, maka kita akan dengan mudah menyerap ilmu yang kita pelajari. Sebagai murid, atau orang yang sedang belajar harus bisa menjauhkan diri dari sifat sombong, congkak atau sifat merasa tahu (rumongso biso/sok tahu) Harusnya "biso rumongso". Perlu membuka wawasan, mawas diri, rendah hati, sederhana, andhap ashor dan bersedia belajar dari orang lain. Itulah laku yang harus dijalankan oleh murid / santri / cantrik di jaman dulu, kemarin, sekarang serta jaman-jaman seterusnya. Itulah pakem seorang murid.
Dengan mendalami arti relief sepasang manusia pada dapur keris tersebut maka kita akan bisa membedakan arti relief puthut dengan relief umyang. Dengan memahami dan menghayati arti yang berbeda maka kita akan mempunyai energi yang berbeda pula. Jika kita condong memahami keris tersebut sebagai “bocah ngumyang” yang lebih ke urusan rejeki atau penagihan maka energi kita juga akan lebih kemrungsung akan harta benda. Jika kita melihat sepasang bocah sebagai puthut yang nyantri / murid – maka kita akan lebih bersikap andhap asor dan mendudukkan diri sebagai murid di hadapan Yang Maha Kuasa, sesama dan lingkungan jagat yang amat luas ini.

Posisi sikap keduanya sama yaitu sama-sama tangan menengadah ke atas (atau menyembah). Keduanya sama-sama memohon ke TUHAN YME. Hanya tujuannya yang berbeda karena “spiritualitas” yang berbeda. Yang satu memohon pemahaman hidup (sejatining urip) – yang lain memohon jaminan kekayaan harta/materi.

Kapas & Padi
Kapas dan padi melambangkan sandang pangan yakni kebutuhan lahir dalam kehidupan manusia. Sandang dinomorsatukan atau didahulukan, sedang pangan dinomorduakan atau dikemudiankan. Hal ini mengandung ajaran filosofis bahwa sandang berhubungan dengan kesusilaan dan diutamakan, sedangkan pangan berhubungan dengan lahiriah dinomorduakan. Oleh karena itu manusia hendaknya mengutamakan kesusilaan daripada masalah pangan. Kehidupan manusia di bumi tidak dapat lepas dari kebutuhan-kebutuhan duniawi. Simbol padi kapas juga melambangkan kesuburan dan kemakmuran.

Beringin
Beringin adalah lambang kesuburan dan perlindungan. Rindangnya daun beringin dan pohonnya yang tidak terlalu tinggi membuat sesorang merasa krasan dan terlindungi.

Beringin juga dipandang sebagai simbol pemelihara kehidupan (lingkungan). Deretan beringin yang mengelilingi Alun-alun Kraton Yogyakarta, kerap dikaitkan dengan keadaan kota Yogyakarta yang tidak pernah kekeringan, khususnya lingkungan Kraton. Beringin dipercaya dapat menjaga ketersediaan air di sekitar tempat tumbuhnya. Beringin memiliki kemampuan untuk menyimpan banyak air lewat akarnya. Tak mengherankan jika beringin turut berperan terhadap kelestarian lingkungan. Tak pelak, bukti tersebut turut mengusung pernyataan pohon (beringin) sebagai simbol kehidupan.

Di Bali banyak terdapat pohon beringin yang berdiameter besar dan berumur ratusan tahun serta berkain hitam putih “poleng“.Beringin bagi orang Hindu Bali sangatlah penting, selain karena bisa memberikan keteduhan. Pada jaman kerajaan Bali dahulu, Beringin merupakan waiting area (tempat menunggu) dan berteduh bagi seseorang sebelum mendapatkan ijin untuk menghadap raja.
Bagi umat Hindu Bali peranan pohon beringin penting dalam upacara “memukur“, yang diselenggarakan biasanya 42 hari setelah ngaben. Jiwa orang yang mati yang telah dibebaskan dari raga (di-ngaben) untuk sementara tinggal diantara daun dan cabang-cabang pohon beringin. Selama upacara “memukur”, jiwa tersebut dibawa turun dari pohon dan kemudian di larung ke laut sehingga menjadi murni dan kemudian di disemayamkan di tempat suci keluarga “merajan“. Mereka menjadi “Betara - betari” (leluhur yang telah disucikan), yang memberikan tuntunan kepada keturunannya di dunia.
Pohon beringin juga melambangkan wibawa karena kerap menyimbolkan “keangkeran / kesungkeran” suatu tempat yang ada pohon beringinnya. Hal ini karena pengaruh pandangan / budaya masa animisme. Pohon dianggap sebagai representasi budaya animisme nenek moyang dan dipercaya memiliki kekuatan gaib. Karena ketergantungan pada alam yang sangat besar, manusia merasa wajib menghormati dan menjaga keseimbangan alam. Pemujaan terhadap pohon pun menjadi perwujudannya. Di mata manusia modern, ini terkesan berlebihan. Padahal menghormati dan memelihara alam meruapakan suatu keharusan jika manusia ingin selamat dan terhindar dari bencana (alam). Pohon memiliki konteks sosial dan menjadi entitas manusia prasejarah, yang seharusnya juga tetap menjadi keprihatinan manusia modern untuk memeliharanya. Tidak mengherankan jika pohon dikeramatkan sampai saat ini.
Beringin juga menjadi lambang kekuatan dan persatuan bangsa.

Payung tertutup
Tidak jelas siapa penemu payung pertama kalinya. Mungkin secara naluriah sejak jaman pra sejarah manusia purba telah menggunakan lembaran daun lebar sebagai payung untuk menutupi diri dikala hujan dan panas. Tercatat bahwa payung sudah digunakan sejak 4000 tahun yang lalu oleh orang-orang Asiria kuno, Mesir, Yunani, dan Cina. Sekitar abad ke-16 payung mulai digunakan oleh orang-orang Eropa. Awalnya payung digunakan sebagai pelindung panas matahari, hanya para wanita yang boleh menggunakan payung. Konon pula, orang yang mulai menggunakan payung sebagai pelindung hujan adalah orang-orang Romawi kuno. Akhirnya pada abad ke-18 payung digunakan sebagai pelindung hujan hampir diseluruh kawasan Eropa.

Di Indonesia, hingga tahun 1960-an, payung masih terbuat dari kertas. Yang paling terkenal adalah payung Tasikmalaya. Lama kelamaan mulai muncul payung impor yang terbuat dari plastik atau kain kasa yang kedap air. Sekarang model payung beraneka macam. Yang paling umum adalah payung yang kita pakai sehari-hari dikala hujan. Kita juga sering melihat payung besar yang dipakai oleh tukang jual minuman : payung matahari karena kegunaan utamanya adalah untuk melindungi penjual dan dagangannya dari matahari (dari hujan juga). Juga ada payung khusus untuk anak-anak dengan model yang unik dan kreatif. Bentuk dan warnanya lebih menarik dan lebih lucu. ada yang berbentuk kepala hewan lengkap dengan telinganya atau bentuk bunga dengan warna merah cerah.
Di desa Borsarng, Thailand, setiap bulan Januari selalu diadakan festival payung. Parade pembuatan payung diselenggarakan bersama parade alat musik kuno, lomba menabuh drum, tarian rakyat, dan kontes kecantikan. Desa Borsarng memang sudah terkenal dengan seni pembuatan payungnya sejak 200 tahun yang lalu. Selain itu desa Borsarng juga dikenal sebagai pembuat payung terbesar di dunia. Di Indonesia kita juga mengenal adanya kota payung. Sudah lebih dari 75 tahun Tasikmalaya terkenal sebagai pusat pengrajin payung. Mereka lebih sering membuat payung-payung tradisional Payung-payung dari Tasikmalaya juga sering dipamerkan.

Dari uraian panjang lebar di atas, jelas pada awalnya payung dipakai sebagai alat perlindungan dari hujan atau terik matahari – dan selanjutnya pun sebagai alat fashion. Inilah makna simbolisasi payung.
Menarik bahwa penulisan kata Jogja pada logo Jogja: Never Ending Asia adalah berdasarkan tulisan tangan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Huruf J yang panjang digambarkan sebagai simbol payung atau perlindungan bagi masyarakat Yogyakarta
Lebih jauh lagi simbol payung juga dipakai sebagai simbol bagi para pemimpin untuk memikirkan masa depan. Payung telah lama (sejak dahulu) memang dikaitkan dengan simbol kepemimpinan yang mengayomi, symbol kehormatan dan kekuasaan. Hanya keluarga kerajaan atau pejabat tinggi yang boleh memakai payung

Simbol payung tertutup pada kersi dapur puthut bisa dibilang sebagai symbol kesiap sediaan / berjaga-jaga terhadap segala yang akan datang dan mengganggu (bagai panas dan hujan) dan merupakan symbol kepemimpinan, kekuasaan, dan kehormatan. “Sedia payung sebelum hujan”, mungkin itu ungkapan yang tepat atas symbol tersebut.

VARIASI BENTUK KERIS DAPUR PUTHUT

Selain bentuk umumnya keris dapur umyang atau puthut kembar sebagaimana di atas, di kalangan per-keris-an dijumpai pula beberapa versi lainnya. Ada yang dalam bentuk Bethok ber-relief Umyang (Bethok buda sebagai ciri dari jaman abad 5), ada yang cuma satu puthut-nya, ada variasi lainnya yaitu satu sisi puthut / badjang/ umyang dan sisi lainnya macan, umyang-naga (ada yang menyebut naga pandhita) dsb. (lihat gambar koleksi)

MITOS (SISI ISOTERI) SEPUTAR KERIS DAPUR UMYANG
Di bawah terekam berbagai sharing yang kami kutip dari berbagai sumber dan diskusi tentang keris dapur umyang dari sisi isoterisnya. Kebenarannya? Wallahualam. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Memberi – dan hanya Allah yang harus ditakuti. La khaola walla khuata illa billa!.

"Setahu sy tdp 9 jenis Umyang dg khasiyat berbeda. Sedang sy incar, bbrp umyang di jogya, malang dan lampung. Yg di bantul milik pak jankung Umyang beras( selalu terbukti dapat memenuhkan gelas berisi bbrp butir beras menjadi penuh dlm kurang dr 5 menit), di sorowajan jogja ktk sy datangi ke rumah pemilik, malah umyangnya berbahan batu mengandung logam mirip bethok buda(amat tua, sptnya dr jaman buda sebelum abad 4), umyang jk beraksara mk termasuk masih muda, paling tua dr jaman majapahit dg besi hitam kelengan spt milik pak MH di poto.

Di sleman umyang tumbak milik pak nyot super langka. Dr jaman kerajaan Kediri (Daha), makannya darah manusia, jk ditaruh 1 gelas penuh darah malamnya, mk paginya akan susut inggal 1/4 kadang 1/2 gelas, khodam 2 raja bajang dr jenis berwarna kuning keemasan. Bentuknya mirip arca Gupolo tp cebol.

Di Tempel Sleman, umyang milik rekan sepuh sy di sana jk digores silang (X) ke sebidang tanah, mk si pemilik tanah akan segera minta dibeli tanahnya oleh si penggores.

Di bogor milik sepuh asal jatim, umyang dipake menagih hutang, dg menyuruh khodamnya mengganggu si penghutang, misal ktk tidur ranjangnya diangkat ingga terbalik, diteror, dsb hingga dai membayar hutangnya(Umyang Tagih).

Umyang sy bentuk(nya) mirip umyang pak MH yg wana hitam tanpa aksara dr jaman singosari besi warna abu2 khodam 1 bajang jenis warna hitam yg ganas, sy kembalikan ke pemilik semula.

Di Purworejo Umyang jk ditarik dr warangka mk sontak listrik rumah padam, kejadian 2x ditarik 2 kali padam, js Umyang sekaligus Sumpet(Singkir) geni.
Di malang umyang didapat dr benteng pendem cilacap ukuran besar seperti pedang, di mulut pututnya tdp emas dan matanya tdp batu mirah, di lampung ktk sy telpon pemiliknya sering bingung dengar suara tangisan bayi di malam hari, semntara jk sawah mrk panen, mk hasilnya melebihi ukuran normal. Misal 1 hektar sawah umpama panen 4 ton mk doi timbang hasilnya 10-12 ton.

Sdg mencari channel ke seorang pedagang khusus Umyang yg mencari umyang hati, jk ditusukkan ke hati ayam, mk dlm 1-3 menit hati akan kering, bahkan pecah-rekah. Doi berani bayar mahal utk itu.
Msh ada umyang msh di alam gaib, di daerah kalasan, suatu saat insyaAllah sy tirakati.

Sekedar sharing info. Konon khabarnya, keris omyang jimbe perawatannya cukup sulit. Artinya, tidak setiap orang kuat memangku derajat atau sawab yang terkandung pada pusaka ini. Seperti merawat seorang bayi, siapa saja yang memiliki pusaka jenis ini harus telaten, sabar dan tak mudah emosi. Selain itu, tak boleh terlambat barang sehari dalam memberi srono/syarat/saji, jika tak menginginkan yoni pusaka ini marah, dan kemudian menghantam pemiliknya. Sehingga keris ini tidak cocok dirawat oleh orang yang berwatak berangasan, kasar, suka menang sendiri, dan tidak peka terhadap perasaan orang lain.

Keris Omyang Jimbe tergolong sulit. Sebab pusaka yang satu ini tidak suka dicampur dgn pusaka jenis apapun. Dia lebih senang ditempatkan pada tempat yang sepi, bersih, rapi, dan jauh dari keramaian. Jika dipaksa untuk campur, bukan tidak mungkin pusaka yang selalu basah akibat tuanya besi baja itu akan marah.

Lebih mengerikan, jika pusaka ini murka, maka yang diserang adalah pemiliknya sendiri. Jika marah, pemiliknya akan selalu dihantui dengan mimpi buruk, misal mimpi kecelakaan, dikejar binatang buas. Yang terparah, pemilik akan mengalami stres.

Khasiat Keris Omyang Jimbe : bisa buat menunjang mencari nafkah asal si pemilik nayuh dulu. Khasiat lain : dapat dipakai untuk menagih utang. Jika si penghutang ngotot tidak mau bayar, dia bisa gila dan baru sembuh jika hutangnya terlunasi…."

PENUTUP
Sebagai penutup, penulis tidak ingin memberikan komentar lebih lanjut, terutama mengenai sisi subjektif isoteri keris dapur putut ini. Hanya beberapa kutipan weweler dalam bahasa jawa yang mungkin bisa kita jadikan renungan bersama.

Ing samubarang gawe aja wani mestheake, awit akeh lelakon kang akeh banget sambekalane, sing ora bisa diduga tumibane. Jer kaya unine pepenget ‘menawa manungsa iku pancen wajib ihktiyar, nanging pepesthene dumunung ing astane Pangeran Kang Maha Wikan’. Mula ora samesthine yen manungsa iku nyumurupi bab-bab sing during kelakon. Saumpama nyumurupana, prayoga aja diblakake wong liya, awit temahane mung bakal murihake bilahi…………

Yen sira kabeneran katunggonan bandha lan kasinungan pangkat, aja banjur rumangsa ‘Sapa sira sapa ingsun’, tansah ngendelake panguwasane tumindak degsura marang sapadha-padhane tumitah. Elinga yen bandha iku gampang sirna, lan pangkat sawayah-wayah bisa oncat….

Iba becike samangsa wong kang lagi kasinungan kabegjan lan nampa kabungahan iku tansah eling gedhe ngucap syukur marang Kang Peparing Gesang. Awit elinga yen tumindak kaya mangkono mau kejaba bisa ngilangi watak jubriya uga mletikake rasa rumangsa yen wong dilairake ing donya iku sejatine mung dadi lelantaran melu urun-urun tetulung marang sapadha-padhane titah, mbengkas kasangsaran, munggahe melu ngreksa hayuning jagad.Aja kagetan, aja gumunan, aja dumeh! Rahayu..Rahayu..Rahayu... (koleksipenceng.blogspot.com)

PESUGIHAN UMYANG JIMBE

Setelah kita pahami perihal Keris Umyang dari koleksipenceng.blogspot.com dari informasi Berita Pesugihan. Indo Pesugihan akan mengupas pesugihan dengan pusaka Umyang Jimbe dengan berkonsultasi pada spiritualis kondang asal salatiga Ki Tjakra Djajaningrat. Sebenarnya siapapun orang yang telah memiliki pusaka Umyang jika dia memahami dan mengerti tatacara pembangkitannya, maka keris pusaka itu akan memiliki faedah yang sangat besar bahkan bila pemiliknya mau menyalah gunakan pusaka itu akan menjadi piandel sebagai pesugihan. Pusaka Umyang ataupun Omyang bagi pemburu kekayaan pada jalur pesugihan sebenarnya kerap dijumpai dan sering kita dengar. Ada seorang Dukun yang konon mampu memroses keris pusaka itu untuk mendatankan uang secara ghaib.Benarkah? Jawabannya bisa saja bila itu seorang yang benar-benar ahli namun tidak sembarangan dukun/orang mampu melakukannya. Keris ini sebenarnya jika di puja dengan suatu prosesi ritual tertentu maka akan dihuni prewangan ghaib dari golongan Tuyul atau Bayi Bajang.
Pemroses alias Pakar yang ahli di bidang supranatural sebenarnya hanyalah menjalankan ritual untuk memerintahkan khodam penghuni keris tersebut untuk disuruh mengambilkan harta yang tidak bertuan ataupun mencuri harta orang kaya yang tidak mau bersedekah,konon katanya begitu! Beragam cara untuk memproses keris Umyang ini,cara pesugihan putih dan cara pesugihan hitam.

Pesugihan Putih Keris Umyang Jimbe:

Dalam pesugihan ini sarat utamanya jelas memiliki keris Umyang Jimbe yang telah terbangkitkan potensi khodamnya,pemilik hanya bertugas merawat dan memberi sesaji pada keris pusaka tersebut pada malam tertentu sebulan sekali. Dengan hal itu diyakini bahwa pemilik akan mendapat bantuan dari prewangan dalam usahanya mencari rezeki,melariskan dagangan, memanggil pembeli, menarik pelanggan,menaikan karier/jabatan,dsb.
Adapun salah satu jejawab mantranya sebagai berikut:

"Hong ilaheng,dat katon dat nora katon jatining sukmo,sang omyang sang jabang sing kanggonan,,,,,,sir ciptoning roso,pamatak kasugihanku,,,,,teko gampang sarining gampang,,,,,,berkah kersaning Allah ta'ala"

Maaf mantra tidak kami tampilkan utuh untuk menjaga hal-hal yang tidak di inginkan, bagi yang berminat silahkan konsultasikan sesuai prosedur.Bagi yang menginginkan berminat untuk memiliki keris umyang jimbe silahkan hubungi indopesugihan@gmail.com/indopesugihan@ymail.com atau hubungi: saudara Dimas klik: www.susuhangin.com

Pesugihan Hitam Keris Umyang Jimbe:

Pesugihan ini disebut hitam karena mendayagunakan keris umyang jimbe untuk diproses agar prewangan ghaibnya mampu bekerja mengambil harta orang mampu mencuri layaknya tuyul.

Pusaka ini akan memiliki kekuatan dahsyat dikarenakan dipuja khodam ghaibnya,dengan perjanjian tertentu maka prewangannya mampu melakukan tugasnya berwujud kumoro kumandang bergentayangan mencuri harta siapapun yang menjadi sasarannya seperti halnya babi ngepet/tuyul. Pada setiap malam yang telah dijanjikan pemilik wajib memberi sesaji dan memandikannya dengan minyak sekar setaman dan air kelapa hijau.Bila pemilik lupa maka khodam yang menghuni pusaka tersebut akan murka dan bisa-bisa tidak terkendali kemarahannya yang justru bisa menjadi bumerang-senjata makan tuan.Walau sebenarnya berbahaya memanfaatkan keris umyang jimbe untuk pesugihan jalur hitam,tapi masih banyak orang memburunya, bukan hanya orang awam saja namun tokoh-tokoh paranormalpun juga memburu kedahsyatan keris pusaka umyang jimbe ini. Untuk tatacara pembangkitan jalur hitam maaf tidak bisa kami postingkan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan seperti penyalahgunaan dan hal ini perlu bimbingan seseorang yang ahli yang menguasai keilmuan umyang jimbe.Bagi yang berminat silahkan hubungi kami Indo Pesugihan.